Nama: Mohamad Emir Wibowo

NRP: I14100101

KERJA KERAS DAN SEMANGAT PANTANG MENYERAH DALAM MENGGAPAI IMPIAN

Ini adalah cerita pengalaman saya yang menyangkut salah satu sifat dari seorang ilmuwan. Setiap orang pasti mempunyai impian. Seperti halnya Wright bersaudara,  mereka mempunyai impian untuk “terbang” di angkasa. Tapi tanpa adanya kerja keras dan semangat tanpa kenal menyerah mereka pasti tidak akan berhasil menemukan pesawat yang membuat mereka “terbang”. Ini juga yang saya terapkan dalam hidup saya.

Sewaktu saya masih bersekolah dibangku Sekolah Dasar, saya mempunyai impian untuk mendapatkan SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi Negeri. Impian ini adalah hal sangat saya impikan untuk membahagiakan kedua orang tua saya. Sewaktu saya SD, beberapa kesulitan saya temui terutama dalam melaksanakan ujian di kelas 6 SD.  Alhamdulillah satu impian saya terwujud, saya berhasil diterima di salah satu SMP negeri di Jakarta.Di SMP negeri saya terdapat 10 kelas. Dua diantaranya kelas unggulan, yang berisi dari siswa – siswa terpilih dari siswa – siswa yang memiliki peringkat terbaik dikelas. Yang lainnya adalah kelas reguler, kelas yang berisi siswa biasa. Sesungguhnya adalah sebuah kebanggan bagi setiap siswa untuk duduk dikelas unggulan. Inilah yang saya impikan, menghabiskan 3 tahun masa SMP saya di kelas unggulan tersebut. Berat memang, apalagi saat di tahun pertama saya langsung masuk di kelas unggulan.  Saya merasakan persaingan yang berat dalam menggapai nilai dengan teman –  teman sekelas saya. Tetapi impian sayalah yang memacu saya untuk belajar giat. Alhamdulillah saya diterima di kelas 2 dan kelas 3 unggulan di SMP saya.

Kesulitan kembali saya temui saat saya berada di kelas 3 SMP. Hasil uji coba (try out) UAN yang  saya laksanakan menunjukan hasil yang jauh dari maksimal. Dengan waktu yang tersisa menjelang ujian nasional, saya berusaha belajar lebih maksimal untuk menggapai nilai yang lebih baik. Saat pengumuman hasil UAN keluar, ternyata nilai saya lumayan bagus, dan saya berhasil masuk SMA negeri yang saya impikan.

Saat SMA, saya mempunyai impian untuk masuk di jurusan IPA dan tentunya lulus dengan nilai yang baik serta diterima di salah satu Perguruan Tinggi Negeri terbaik di Indonesia. Semua itu memang berat. Banyak temen – temen saya yang juga memiliki impian yang sama dengan saya. Dan banyak juga diantara mereka yang lebih pintar dari saya. Awalnya saya memang merasa minder, jadi saya hanya bisa belajar semaksimal mungkin dan tentu saja berdoa kepada Tuhan. Selain itu saya juga mengikuti bimbingan belajar (les) di luar jam sekolah. Ini saya lakukan untuk lebih memahami materi – materi pelajaran di sekolah.

Alhamdulillah dengan semua kerja keras saya tersebut, semua impian saya di SMA  dapat terwujud. Saya berhasil masuk di jurusan IPA. Saya juga berhasil lulus dengan nilai yang baik. Dan saya pun berhasil masuk salah satu Perguruan Tinggi terbaik di Indonesia, yaitu IPB. Yang lebih membahagiakan adalah saya diterima di IPB tanpa melalui tes atau biasa disebut pmdk. Selain itu, saya diterima di salah satu jurusan favorit di IPB.

Kini saya sedang berusaha menggapai impian saya yang lain. Tapi saya yakin tanpa adanya semangat pantang menyerah dan kerja keras semua impian saya akan sia – sia. Jadi sikap ini harus ditanamkan disetiap diri manusia agar apa yang diimpikan dapat terwujud.

Nama: Mohamad Emir Wibowo

NRP: I14100101

Kisah Penjual Susu

Di malam yang pekat dan angin dingin semilir menusuk, Amirul Mukminin, Umar bin Khaththab sedang menelusuri kota Medinah melalui lorong demi lorong. Di saat seluruh penduduk kota terlelap, sang khalifah tetap terjaga mendatangi satu demi satu rumah untuk mengetahui kondisi rakyatnya. Ia sadar bahwa kepemimpinannya kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Oleh karena itu, ia tidak ingin ada seorang pun dari rakyatnya yang terzalimi.

Malam makin larut hingga tibalah fajar menyingsing. Ketika hendak beranjak ke masjid, langkahnya tertahan di depan sebuah gubuk reot. Dari dalam gubuk itu terdengar percakapan lirih antara seorang ibu dan putrinya. Dari percakapan itu ternyata mereka adalah penjual susu kambing yang akan menjual hasil perahannya di pasar pagi itu.
“Nak, campurlah susu itu dengan air,” pinta sang ibu kepada putrinya. Sang ibu berharap agar ia memperoleh keuntungan lebih banyak dari hasil penjualan susu oplosannya (campuran). Putrinya menjawab, “Maaf, Bu, tidak mungkin aku melakukannya. Amirul Mukminin tidak membolehkan untuk mencampur susu dengan air, kemudian menjualnya,” tolak putrinya dengan halus.

Sang ibu tetap bersikukuh, “Itu suatu hal yang lumrah, Nak. Semua orang melakukannya. Lagi pula Amirul Mukminin tidak akan mengetahuinya,” bujuk sang ibu lagi. “Bu, boleh jadi Amirul Mukminin tidak mengetahui apa yang kita lakukan sekarang, tetapi Allah SWT Maha Melihat dan Mengetahui!” jawab sang putri salehah.

Haru dan bahagia membuncah di dada Amirul Mukminin. Betapa ia kagum akan kejujuran dan keteguhan hati sang gadis miskin tersebut. Mungkin gadis tersebut miskin harta, tetapi begitu kaya hatinya. Amirul Mukminin teringat akan tujuannya semula dan bergegas menuju masjid untuk shalat Fajar bersama para sahabat. Usai melaksanakan shalat di masjid, Umar bin Khaththab segera memangil putranya yang bernama ‘Ashim. Beliau segera memerintahkan ‘Ashim untuk melamar putri penjual susu yang jujur tersebut karena memang sudah saatnya ‘Ashim untuk berumah tangga. Tidak lupa Amirul Mukminin menceritakan keluhuran hati gadis penghuni gubuk reot tersebut kepada putranya.

Search
Archives